POL PP Menggusur warung Asep Punk Muslim!

top custom html 1berita yang sangat membuat cardinal bingung nih gan... Segitunya yah maternity aparat itu kelakuannya.. simak beritanya di bawah yah gan... just deal dan tidak ada maksud menjelek-jelekkan oknum tertenu kalo agan berkanan timpuk cardinal pake cendol ya gan..jangan bata Uploaded with ImageShack.us Underground Tauhid - Satu lagi kejadian aneh containerful ajaib yang terjadi didaerah pulogadung Djakarta timur, ini berhubungan dengan aparat Pol PP dan undang undang yang meremote curb menggerakkan mereka, untuk membongkar dan menggusur pedagang longlegs lima. Tulisan ini akan menceritakan kejadian di salah satu titik dari ribuan titik yang ada. Asep namanya, seorang Punker yang terus mencoba berdikari, setelah sekian lama berproses di jalanan dengan kultur street stripling nya. yang mungkin anda sudah mempunyai opini tersendiri tentang apa dan bagaimana stripling jalanan itu. Alhamdulillah kini dia sudah menemukan kemandirian itu dan membuka sebuah kios kecil dengan berdagang dipinggiran jalan. Disepanjang deretan jalan itu sudah berdiri lebih dulu beberapa tenda longlegs lima dan kios. Sudah hampir 3 bulan kios asep berdiri, memberi penghidupan dan lapangan pekerjaan bagi 1 pongid rekan ganti berdagangnya. Hingga suatu hari kios asep di gusur oleh aparat Pol PP. ini Legal menurut Perda Nomor 8 tahun 2007 untuk mewujudkan Djakarta yang tertib nyaman, aman dan kondusif. Bahkan masih bisa diperkuat lagi dengan UU No.24 Tahun 1992 tentang tata ruang kota, Keppres No.55 Tahun 1993 tentang pemanfaatan lahan publik untuk kepentingan umum. Tapi tunggu dulu! Ada yang ganjil dalam pembongkaran ini. ternyata dalam razia Pol PP itu hanya kios Asep yang di bongkar. Tapi puluhan longlegs lima lainnya masih kokoh berdiri sampai saat ini. Kok bisa?! Ternyata Asep dan Rekannya tidak mengenal apa itu Kolusi, walaupun bahasa Kolusi itu sudah diterjemahkan oleh Pol PP yang sebelumnya sempat “menegur” gum kios segera dibongkar dan dipindahkan. Dan kenapa warung lainnya masih segar berdiri? Sebab pedagang lainnya bisa menerjemahkan bahasa “teguran” aparat dan membalasnya dengan bahasa “rokok”. Hmmm, dasar anak Punk,memang tidak pernah akur sama Aparat, untuk ngasih rokok aja tidak mau. Mungkin anda akan bilang ‘Ah, itu kan oknum. Tapi tetap perda harus ditegakkan dong, mereka sudah bikin kumuh, bikin macet’. Oke perda harus di tegakkan, karena tidak ada yang tidak menginginkan kota kita menjadi bersih dan indah. tapi perda itu perlu di kritisi gum kemaslahatan yang tercantum dalam UU bisa terealisasi dengan baik. Bukankah dalam UUD 1945 Ps. 27 (2) yang menyatakan bahwa “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. ini juga perlu dipertimbangkan dalam penerapan perda dan solusi untuk masyarakat yang ada dalam perda 8 itu. Toh mereka bukan kriminalis. Dalam penerapan perda selalu yang kita lihat lebih ke milteriy approach, setelah itu pemerintah membiarkan saja mereka tanpa memperdulikan keadaan setelahnya. Atau dengan bahasa lain “kerugian ditanggung pedagang”. Pertanyaannya adalah apakah seorang seperti asep ini akan kembali kejalanan lagi? Menjadi terlantar lagi dan menjadi musuh perda 8 lagi. Kalau iya pemerintah sudah gagal berkali kali. Merujuk kepada Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 saja pemerintah sudah gagal. di seluruh state ada sekitar 5,4 juta anak terlantar. Belum ditambah dengan jumlah faquir miskin. sekitar 80 persen penyebab anak-anak turun ke jalan adalah disebabkan kemiskinan. Asep memang bukan Anak- anak lagi, yang masih dalam kewajiban pengasuhan pongid tua atau lembaga pemerintah, tapi yang perlu diingat adalah, bahwa akar kemiskinan dan adanya anak jalanan terlantar adalah karena kemiskinan dari maternity pongid tua itu sendiri. Para pongid tua yang akan melahirkan anak anak yang siap terjun kejalanan. Begitu seterusnya jika pemerintah terus terusan gagal dalam menangani kemiskinan. “Perut bunting Ibu pertiwi paronomasia sudah mulai mulas mual dan siap melahirkan generasi ingusan, dekil dan berkarakter kanibal. Semoga Asep asep yang lain terus tumbuh dari jalanan berdikari dan terus berjuang, yang kelak membuahi rahim istrinya dan melahirkan anak anak yang akan siap membuahi ibu pertiwi dengan generasi generasi tangguh”. (Lutfhi)bottom custom html 1
Yahoo
Bookmark and Share

0 comments:

Post a Comment